Thursday, January 1, 2015

Listen Silent

Cinta, bisa hadir di dalam diri siapa saja. Dan kupastikan cinta yang ada di hati adalah pemberian Batara Dewa. Kamu juga pemberian-Nya. Cinta itu bukan kesalahan, kamu pun bukan kesalahan, kita bukanlah kesalahan. Kita hanya saling cinta, bukan?





Goresan kuasku menciptakan pesona di atas kanvas putih, begitu sempurna sampai akhirnya kamu datang dan mengagetkanku.
"Bagaimana? Kamu dapatkan dia?"
Ah, shit! Kutatap pemandangan Taj Mahal di atas canvas itu, sebuah garis berwarna coklat menyilang merusaknya. Ini karena kamu tiba-tiba datang mengagetkan jemariku. Kutatap kamu dengan tatapan protes. Lihat ... kamu merusaknya!
Kamu hanya mengedikkan bahu dengan wajah tanpa dosa. "Perbaiki lagi, kamu ahlinya." 
Kuhembuskan napas. Yeah, aku ahlinya.
Kamu menghempaskan tubuh di sofa dan mengambil sebuah tabloid di atas meja. "Ahhh, aku lagi!!" Kamu lempar tabloid gosip itu kembali ke atas meja. Wajahmu tampak di cover depan, bergaya dengan senyuman menawan.
Ya, selalu kamu.
Aku masih meneruskan usahaku memperbaiki lukisanku yang kamu rusak.
"Jadi?"
Apa?
"Kamu temukan gadis itu?"
Kualihkan pandanganku dari kanvas itu kepadamu dan kuanggukan kepala.
"Oke. Itu bagus. Atur semuanya." Kamu melihat jam tangan kemudian beranjak dari kursi.  "Aku percaya padamu."
Kamu akan pergi lagi padahal kamu baru saja datang?
"Ada pemotretan di Pantai Kuta lagi." Kamu menghembuskan napas. "Harus kupamerkan tubuh indahku lagi."
Hahahaa... baiklah.
Kamu tersenyum. "Sampai nanti."
Sampai nanti. Kutatap kamu pergi.
Kenapa kamu selalu mempercayaiku? Mulai dari memilihkan pakaian yang bagus untukmu sampai memilihkan gadis yang baik untukmu. Kamu boleh meminta aku melakukan apa saja, tapi tak seharusnya kamu meminta kulakukan hal terakhir itu. Kamu tahu, itu sangat berat bagiku.
Karena aku terlalu mencintaimu, Sander Sandrea.
***
Gadis Bali. Gadis baik-baik. Cantik. Sudah berapa banyak gadis yang dipermainkan olehmu? Apakah gadis ini juga akan bernasib sama seperti gadis-gadis lainnya? Aku bisa menutup mata jika kamu bersama gadis-gadis lain yang sama gilanya seperti kamu. Tapi gadis ini... dia gadis baik-baik, Sander.
"Bli!" Gadis itu berlari ke arahku dengan wajah riang, lalu dipeluknya aku. "Terima kasih karena mempertemukan kami.”
Aku tak tahu harus berkata apa melihat kebahagiaannya. Haruskah kukatakan padanya yang sebenarnya tentangmu? Tapi lidahku seperti terkunci setiap saat ingin kukatakan yang sebenarnya. Lidahku memang selalu terkunci.
Dia memamerkan cincin pertunangan di jari manisnya. "Dia melamarku kemarin." Matanya berbinar bahagia. "Sayang sekali Bli Arya tidak datang. Bli selalu lebih mementingkan pameran lukisan."
Kuhembuskan napas berat. Kupaksakan senyum di wajahku. Apa yang harus kulakukan saat melihat kebahagiaan adik kandungku satu-satunya? Haruskah aku ikut bahagia padahal tidak?
"Hey, Ar! Kamu mau ikut jalan-jalan bersama kami?" Kamu menghampiri kami.
Kutatap adikku, matanya memohon dan tanpa suara bibirnya berucap, 'Bli, kumohon, jangan ikut'.
Bagaimana bisa aku ikut? Jadi, kugelengkan kepala.
Kamu menatapku heran. "Kenapa? Ayolah, hanya jalan-jalan saja."
Kutatap adikku lagi. Kamu tak melihat bagaimana mata itu memohon agar aku tidak ikut, agar aku membiarkan kalian pergi berdua saja.
Aku tersenyum dan kugelengkan kepala lagi.
"Ayolah, sayang. Bli Arya tidak mau ikut. Kita pergi berdua saja." Dia mengaitkan tangannya di lenganmu, dan menarik kamu untuk pergi bersamanya.
Kamu ikut dengannya, berjalan pergi, namun matamu masih tertuju padaku. Mata yang keheranan atas penolakanku.
***
"Skenario yang bagus." Kamu melempar tabloid gosip itu ke meja.
Aku gerakkan tanganku menciptakan isyarat-isyarat yang kamu mengerti sebagai bahasaku. Kuutarakan kecemasanku.
Kamu menarikku ke arahmu. "Tidak. Tidak akan ada yang tahu. Aku tak akan bicara. Kamu juga begitu."
Aku tersenyum saat kamu memelukku. Sejak dulu hanya kamu yang mengerti kebisuanku. Hanya kamu yang bisa mendengarnya.
Karena itu aku pun membalas cintamu, hingga tak kupedulikan lagi segalanya. Tak kupedulikan berita di tabloid itu. Berita tentang pertunanganmu dengan adikku. Berita itu melenyapkan segala gosip yang menyita tiap ruang di majalah, koran dan televisi beberapa minggu lalu tentang jati diri seorang model terkenal Sander Sandrea yang memiliki hubungan cinta dengan seorang pria Bali.  Berita pertunanganmu itu kini menepis segala gosip tentang hubungan kita.[]

No comments:

Post a Comment